Wednesday, May 19, 2010

Sugarless Oat Muffin



Akhirnya nge-blog lagi, di jam 04.17! Wow! Bareng maling pulang nih, nge-blog-nya, hehe...
Anyway, langsung aja sebelum ngantuk lagi. Muffin ini terinspirasi muffin oatmeal andalan, yang mana bahkan belum pernah tayang di blog-ku, tapi versi tanpa gulanya.
Selain dari resep andalan itu, aku juga terinspirasi dari Pak Wied (Wied Harry) dengan buku resep kue-kuenya yang tanpa gula.
Di rumah kebetulan masih ada sisa kismis, tinggal seperempat cup. Ada pisang ambon juga tinggal satu. Juga masih ada banyak oat. Jadilah muffin ini. Aku tambahin pisang karena khawatir si kue nggak cukup manis.
Hasilnya? Enak, empukkkk, dan nggak seret. Tapi rasa manisnya tipis sekali, dan mungkin nggak cukup manis bagi yang suka manis-manis. Tapi karena aku sudah manis ya segitu cukuplah, ha ha ha! Just kidding, folks! Rasa manisnya sebetulnya tambah berasa pas kismisnya kegigit. Sayangnya aku nggak mencincang si kismis cukup halus agar dia merata di adonan. Well, next time better :)
Siapa yang suka? Suamiku! I just found out that he likes raisins (after all these years?? Girl, where have u been??). Anak-anak? Suka, tapi yang dimakan cuma dome-nya doang, hik hik.. Bokap, no comment (jangan-jangan dia nggak nyobain??). Nyokap juga suka, karena kuenya tanpa gula, dia merasa lebih aman untuk blood pressure-nya. Sayangnya aku masih belum menyingkirkan baking soda dan baking powder untuk para muffin. Sebetulnya kata Pak Wied bisa. Tapi aku memang masih takut gagal aja, soalnya muffin kan memang mengandalkan food additives yang satu itu. Tapi, lain kali harus dicoba, ganbatteee!
Ohya, lain kali aku mau mencoba kurma sebagai pengganti kismis. Mestinya sih, lebih manis ya..

Ini resepnya ya, selamat mencoba:

Bahan:
1 cup air
1/4 cup kismis, cincang halus
1/3 cup oat non instan
2 sdm mentega
3/4 cup tepung terigu
1/2 sdt baking soda
1/2 sdt baking powder
1/4 sdt garam
1 buah pisang ambon matang, lumatkan dengan garpu
1 btr telur, kocok dengan garpu
1/4 sdt kayu manis bubuk

Cara membuat:
- Panaskan oven 200 derajat Celcius
- Siapkan loyang muffin mini dengan mengoleskan mentega tipis-tipis
- Siapkan oat dan mentega di sebuah mangkuk
- Masak air dan kismis hingga airnya surut setengahnya
- Tuang campuran air kismis yang masih mendidih ke mangkuk berisi oat. Diamkan sekitar 20 menit.
- Di mangkuk lain, aduk rata terigu, garam, kayu manis, baking soda, dan baking powder
- Masukkan pisang ke dalam campuran oat. Aduk
- Masukkan kocokan telur ke dalam campuran oat. Aduk
- Masukkan campuran oat-telur ke dalam terigu. Aduk HANYA sampai tercampur rata.
- Sendokkan adonan ke loyang muffin. Panggang dalam oven sekitar 30 menit.

Menghasilkan sekitar 8 mini muffin

Thursday, February 11, 2010

One Casual Morning


Pagi tadi aku menyiapkan makanan seperti biasa. Pagi-pagi, sebelum Adzan Subuh, sudah di dapur sambil mengusir cicak yang berkeliaran. Bekal buat Ayah; sayap ayam panggang dan capcay sederhana.
Habis itu menyiapkan sarapan untuk anak-anak. Niatnya sih, mau bikin pancake yang fluffy tanpa baking soda beserta saus apel karamel. Seharusnya bisa lho bikin pancake tanpa baking powder. Cuma agak sedikit berusaha, karena harus pakai mixer dan telur kuning dan putih dipisah dulu. Putih telur dikocok sampai cukup kaku, sedangkan kuningnya dikocok bersama gula dan teman-temannya. Baru setelah adonan kuning telur mengental, masukkan putih telur yang kaku itu ke dalamnya dan aduk rata.
Teorinya.
Kenyataannya, kok males ya memisah-misah telur? Maka, dengan kesoktahuanku yang biasa, aku kocok saja itu telur semua sampai kental. Lalu menunggulah aku sampai anak-anak bangun sebelum memasak si adonan, sambil browsing.
Alhasil, adonannya kok kuennnnteeeelll banget sangat nggak meyakinkan. Tanpa pikir panjang langsung membelokkan arah, masukkan lagi susu biar lebih cair dan memutuskan untuk buat dadar (crepes) saja, ha ha ha!
Oh ya, sausnya sudah aku siapkan sebelum menyiapkan adonan pancake. Resepnya lumayan ngasal, karena setelah browsing-browsing, kok ya pada ribet bikinnya.. Jadilah sok tahu bikin sendiri.

Nah, masakanku memang hasil dari kesoktahuanku. However, lumayan jugalah. Tapi aku nggak akan mengetikkan resep dadarnya, karena sudah nggak jelas ukurannya, hehe. Simply find your favourite crepe recipe by yourself, ok?

Cuma, sekedar mendokumentasikan apa yang kubuat. Kalau ada yang meniru, yah.. resiko sendiri ya.

Sayap Ayam Oven

Bahan:
7 buah sayap ayam (lupa berapa gram)

Haluskan:
1 siung bawang putih
1 iris jahe
garam

Perendam:
2 sdt saus tomat
1 sdt minyak wijen
1 sdt lada hitam
1 sdt madu

Cara membuat:
Ungkep ayam yang sudah dibersihkan dengan bumbu halus sampai airnya sat dan matang.
Baluri ayam dengan bumbu perendam. Diamkan, atau masukkan kulkas bila baru akan dimasak keesokan harinya.
Panggang di oven dengan suhu 180C sekitar 15-20 menit.

Dadar Saus Karamel Apel

Dadar:
Find your own favourite recipe please

Saus Apel Karamel
Bahan:

1 buah apel, kupas iris tipis, potong persegi
1 sdm mentega (aku pakai unsalted, tapi mungkin lebih baik pakai yang salted untuk mengimbangi manisnya)
2 sdm gula pasir
3 sdm air panas

Cara membuat:
Buatlah dadar sesuai resep (hehe). Sisihkan
Panaskan wajan anti lengket dengan api kecil
Masukkan mentega hingga meleleh semua, lalu masukkan irisan apel
Masak hingga apel berubah kuning kecoklatan
Taburi apel dengan gula. Biarkan hingga gula meleleh. Aduk.
Masukkan air panas lalu aduk rata hingga mengental. Matikan api.
Sajikan dadar yang dilipat atau digulung dengan siraman saus.

*sausnya cukup hanya untuk porsi dua anak batita.

Kelihatannya enak bukannnn? But, no matter how good a food we make, if toddlers say no, it's a no. It only makes the food stays in their mouth, but not in their belly. -Sigh!-



By the way
, kan pancake-nya salah bikin. Kok, masih dibilang 'casual morning'? Ya memang iya. Karena kalau aku 'berulah' dan 'membuat kekacauan' di dapur itu adalah suatu hal yang sangat biasa. He he he...

Monday, February 8, 2010

Creamcheese Cake



Nope, not Cheesecake - cheesecake. It's more cheese sponge cake made out from creamcheese.
Ya, resepnya aslinya berjudul Brownies Kukus Keju, yang suka disingkat jadi Brokus Keju. 'Penggubah'nya Pak Sahak. I have no idea who he is. A chef maybe? Tapi kayanya cukup terkenal di kalangan kursus membuat kue.
Nah, karena judul aslinya saja sudah 'kukus' maka seharusnya dikukus. Tapi, dikarenakan pas mau mengambil kukusan yang ada di atas lemari, oh ternyata kotor dan lengket, jadi males nyuci. Aku putuskan saja untuk memanggangnya dengan oven. Pemalas, pemalas, pemalas...
Meski sudah punya timbangan digital, eh belum cerita ya? Nanti saja ya? Anyway, meski sudah punya timbangan digital, masih juga malas menimbang. Alhasil ukurannya aku konversi ke ukuran cup.

Sebetulnya aku membuat kue ini karena ada sisa creamcheese saja sih. Ohya, aku nggak tahu hasilnya seperti apa kalau dikukus. Mungkin seperti juga kue kukus lain, kue ini akan lebih lembut permukaannya serta padat. Mungkin lho. Tapi dipanggangpun kue ini cukup lembut. Teksturnya seperti spongecake tapi tidak seret di kerongkongan. Rasanya juga sangat keju. Emm!

Ohya, as you see, aku tendang itu TBM dari resepnya. Ha ha ha!(ketawa jahat). Bisa juga kannn. Kue ini kan memang dimaksudkan menjadi brownies, jadi saat dimasukkan ke loyang 20x20 ia terlihat agak pendek. Tapi nggak bantet seperti brownie umumnya. Membuatnya alhamdulillah gampang. Mamah langsung suka sama kue ini, tapi beliau merasa kuenya agak sedikit kemanisan. Baiklah, karena keju krim sudah sangat magteg, mungkin sebaiknya kita kurangi lagi gulanya lain kali supaya nggak blenger.

Ok, ini resep asli yang beredar di milis, I just copy-pasted it.
Brownies Kukus Keju
Source : Sahak Pribadi

Bahan A :
Telur 3 butir
Gula 100 gram
TBM 1 sdm

Bahan B :
Tepung terigu 60 gram
Maizena 20 gram
Garam 1 sdt
Susu bubuk 40 gram

Bahan C :
250 cream cheese
50 – 100 gr mentega

Cara Membuat :
1. Kocok bahan A sampai mengembang.
2. Masukan bahan B lalu aduk sampai rata.
3. Kocok bahan C sampai halus kemudian masukan keadonan lalu aduk sampai rata.
4. Tuang keloyang lalu kukus kurang lebih 20 menit.

Nah, ini resep yang sudah kugubah (ta'elaaa, ky lagu!):
Creamcheese Cake

Bahan A :

3 butir telur
1/2 cup gula (boleh dikurangi lagi kalau dirasa kemanisan)

Bahan B :
1/2 cup tepung terigu
2 sdm tepung Maizena
1/2 sdt garam

Bahan C :
250gr cream cheese
50gr (atau 3,5 sdm)mentega tawar

Cara Membuat :
1. Panaskan oven 170C. Lapisi dasar loyang 20x20cm dengan kertas roti dan mentega.
2. Kocok bahan A sampai mengembang.
3. Masukan bahan B lalu aduk sampai rata.
4. Kocok bahan C sampai halus kemudian masukan keadonan lalu aduk sampai rata.
5. Tuang keloyang lalu panggang dengan cara au ban marie kurang lebih 30 menit.
6. Diamkan hingga hilang panasnya, keluarkan dan potong-potong. Hidangkan.



Nah, sekarang kalau dilihat posting-posting sebelumnya, mungkin ada yang berpikir, "Lhaaa kuenya kok polos-polos amat?". Iya memang. Tapi sadarilah bahwa dengan polosnya kue-kue yang sudah kubuat, kita sudah punya 3 rasa kue yang berbeda; coklat, pandan dan keju. Dari kue-kue yang sangat dasar ini bisa jadi acuan untuk berkreasi lebih lanjut kan? Sebetulnya sudah ada rancangan kue yang lebih meriah di kepala. Tapi kapaaaaaaaaaaannnnnn mau buatnya?? Menunggu alasan untuk membuat kue meriah. Uhu...

Friday, January 15, 2010

Lebih Alami, Lebih Baik



Baking powder, baking soda, emulsifier, pewarna makanan, pasta perasa, MSG, kita sering dengar, kan?
Sejak aku belajar membuat kue aku makin sering dengar benda-benda ini. Kalau kata orang semakin banyak belajar, semakin bingung, itulah yang dialami aku, hehe. Tapi, mungkin ini bingung yang bagus, karena karena ketidakmengertianku mengantarkan aku untuk penasaran menemukan jawabannya. Apa yang aku bingungkan? Ok, aku sedikit tahu kalau mereka membantu mengembangkan, atau mewarnai, atau memberi rasa, atau mempertahankan agar kue tetap mengembang. Hmm..ok. Tapi..terbuat dari apakah mereka?
Sudah lama aku meragukan bahan makanan dan minuman instan. Aku perhatikan kok, aroma makanan yang satu dan yang lain mirip sekali. Lebih parah lagi aku merasai aroma minuman kemasan bisa sama sekali dengan aroma sabun cair untuk cuci tangan. Lalu penasaran mengalir ke label kemasan. Ya, memang ada zat pemberi aroma. Mungkin esens aroma untuk makanan dan untuk sabun berbeda (seharusnya sih), tapi aku memang nggak mengerti kode-kode zat sintetis ini. I'm no food expert.


Sejak aku punya anak aku lebih hati-hati lagi dengan pemilihan makanan. Aku kan, harus memberi makanan yang baik dan halal untuk anak-anakku, bukan? Sejak aku masih single pun, I never-ever trust instant baby food. I mean, what's good from those boxed food?
Pertama, coba lihat label kandungan bahan-bahan di kemasannya. Ups, maaf, coba lihat dulu judul makanannya, rasa strawberry? rasa pisang? Ok. Lalu lihat apakah ada pisang sungguhan di label kandungan bahannya? Nggak ada? Yang ada 'perasa pisang'? Pewarna 'pisang'? Nggak cuma makanan bayi, tapi juga makanan kemasan lainnya kan? It's a fake.(I raise my shoulders and open my hands, literally). So, what's good in those boxes, I have to ask again?
Kalau kita makan hanya untuk kesenangan, ok lah. Tapi, kalau mencari sehat, apalagi untuk anak-anak, apa ada yang kita cari itu dalam makanan tersebut? Lalu mereka mengklaim 'kan, kami menambahkan vitamin X, Y, Z dan DHA, bla bla whatever'. Ok. Apa sudah ditambahkan sesuai dengan porsi yang seharusnya? berlebihkah? Kurangkah? Kita nggak pernah tahu kan?
'Ya percaya saja kalau BPOM sudah merestui mereka beredar, maka makanan itu berarti sudah cukup baik'. Are you sure?
Kembali ke zat tambahan makanan. Ya memang bagi tukang kue pakai zat-zat ini sangat membantu menghemat waktu dan modal. Dengan bahan tersebut kita bisa mengocok telur lebih cepat mengembang, kue kelihatan lebih cantik karena tinggi, warna kue lebih menarik, dan kue bisa berasa aroma tertentu dalam waktu singkat.
Tapi, kalau kita mau penasaran sedikit, sebetulnya apa sih, isi bahan-bahan tersebut? Contohlah, emulsifier. Mari kita browse, itu gunanya internet, kan? Aku menemukan ini. Ternyata kita, terutama yang Muslim, juga mesti hati-hati dalam memilih bahan untuk makanan. Kalau penampakannya nggak seperti babi, bukan berarti nggak haram. Wkwkwkkkk, maaf ya kalau aku ngomong, atau ngetik, suka kejam bahasanya. Nah, daripada ragu, sebaiknya di-skip saja. Nggak usah pakai.
Sekarang masuk ke pewarna atau pasta perasa tambahan. Pasta strawberry. Apakah terbuat dari strawberry? Coba lihat gambar. Apakah ada 'buah strawberry' di label komposisinya?
Hmm.. I think not. Kecuali kalau mataku sudah nambah lagi minusnya.

Bagaimana dengan kepraktisan? Ya, tentu lebih praktis kalau kita ambil kemasan tepung berbumbu lalu bikin ayam goreng tepung untuk anak-anak. Rasanya, sudah pasti gurih dan enak. Coba cek bahan-bahan di labelnya, sudah pasti ada MSG. Ya, tentu pakai MSG karena kalau beli langsung jadi di gerai fastfood pun biasanya pakai MSG juga. Sudah banyak bahasan tentang MSG ya, salah satunya di sini. Meskipun masih ada kontradiktifnya antara yang mencapnya buruk dan yang tidak, tapi kalau ragu-ragu, lebih baik skip. Iya, kan?


I don't want to be a hypocrite. Aku juga masih makan kok, food additive. Lihat saja di blog ini aku masih pakai baking powder kadang-kadang, he he. Tapi ya itu, sejak punya anak aku merasa kalau kita memakan sesuatu, there should be something good in it. Bukan cuma sekedar kenyang. Jadi aku bukan sama sekali anti. Sometimes it's so inevitable. Tapi kita bisa menguranginya mulai dari rumah, kan? Kalau kita makan, pasti kadang di rumah, kadang di luar. Di luar kita mungkin tidak bisa membendung makanan-makanan yang bahannya nggak terlalu kita inginkan, karena kita nggak tahu persis proses memasaknya, apalagi resep makanannya. Makanya mungkin sebaiknya kita dampingi dengan makanan yang lebih baik di rumah. Semoga sih, seenggaknya bisa dapat 50-50, antara yang baik dan yang..er..kurang baik.
Anyway, again, I'm no expert. I'm just a mom whose trying to find good food for her kiddos.
Aku bermimpi, suatu hari bisa bikin kue-kue dan makanan yang lepas dari zat-zat yang nggak jelas. Makanya dimulai dari sekarang, resep-resepku akan kulabeli mana yang nggak pakai zat-zat tersebut dengan label 'additives-free'. Kita lihat nanti berapa banyak yang pakai, dan berapa banyak yang nggak. Bismillah...

Friday, January 8, 2010

Pandan dan Suji

Apa itu pandan dan suji?
Brrr... jangan-jangan suatu hari nanti anak-anak kita menjawabnya dengan: pasta!
Atau... jangan-jangan masih banyak dari kita yang nggak tahu bentuk pandan dan suji juga?

beruntung aku punya almarhumah nenek yang suka masak dan membuat kue-kue jaman dulu (I miss you Nek :( ), dan beruntung di halaman rumah orangtuaku yang lumayan luas ini tumbuh tanaman pandan dan suji. Makanya aku tau bagaimana mereka biasa dipakai dan bagaimana bentuk mereka. Tapi sejak beliau meninggal kue-kue jaman dulu itu sudah jarang muncul di dapur kami. Tunggu, kita nggak sedang membahas itu kan? Ok, balik ke topik.
Untuk yang belum tahu bentuk daun pandan dan daun suji (no, they're not coming out from the bottle), mereka adalah tanaman yang berikut ini akan sedikit dijelaskan menurut homemades.
Daun pandan biasa kita pakai karena wanginya. Untuk mendapatkan aroma pandan pada makanan yang kita buat cukup dengan memasukkan daun tersebut yang sudah dipotong, atau dirobek-robek, atau disimpulkan ke dalam makanan yang sedang kita buat. Mungkin ada juga yang menggunakan pandan sebagai pewarna alami (seperti di sini), tapi di negara kita umunya orang memakai daun suji untuk pewarna alaminya. Nah, pandan dan suji seringkali menjadi partner untuk memberikan hijau alami, karena kita bisa mendapatkan aroma dari pandan dan warna dari suji. Perfect!
Pandan memang sering dipakai sendirian, karena seringkali orang hanya membutuhkan aromanya. Sedangkan suji jarang sekali dipakai solo.
Kalau dilihat dari bentuknya, daun pandan lebih lebar dan panjang serta bertulang lebih keras. Namun, daun suji berwarna lebih hijau tua. Lihat gambar di bawah ini:

Lihat juga bagian belakang daun. Tulang daun pandan lebih keras dan bisa terlihat daun ini seperti memiliki bekas lipatan yang tegas. Tekstur daun pandan juga agak lebih getas dan bergaris-garis, sedangkan suji lebih lembut.


Bentuk 'pohon' alias tanaman mereka sendiri juga berbeda. Suji memiliki batang keras dan bisa tumbuh bercabang. Lihat pohon suji ini:


Sedangkan pandan tumbuh tanpa batang keras. Yah, em...seperti rumput atau jenis daun nanas atau pakis-pakisan. Maap ya, maklum bukan ahli botani, jadi nggak ngerti istilahnya apa (belajar biologi terakhir pas SMP. Loooong time ago!)
Ini dia segerombol pandan yang cukup gondrong:


Dulu untuk mendapatkan cairan pandan-suji orang-orang harus menumbuk daun tersebut sambil diberi air sedikit (kadang juga air kapur sirih, konon biar warnanya lebih 'keluar'), lalu disaring. Nenekku dulu menggunakan lumpang besi untuk menumbuknya. Berat! Sekarang kan, kita punya teknologi ya? Ambil saja daun-daun tersebut masukkan ke food processor atau blender, tambahkan sedikit air atau bahan cair apapun yang akan digunakan dalam resep. Proses, wuzzz! Saring. Sudah! Nggak susah juga kok. Thanks to Littleteochow for the idea. Oya, perbandingan daun tersebut biasanya suji lebih banyak daripada daun pandan, misalnya pandan 2 lembar dan suji 5 lembar. Tergantung seberapa wangi(dari pandan) dan seberapa pekat warna hijau(dari suji) yang kita inginkan.

Nah kalau ini Abang-kecilku-sayang yang nggak rela bundanya motret gambar kok nggak ada orangnya. Tuh, lihat mulutnya, dia juga habis makan pandan sponge cake, tuh.

Yuk, kembali ke yang alami untuk anak-anak kita?

Wednesday, January 6, 2010

Berry Berry BananaBread



Akhirnya berani ikutan online event-nya NCC juga. Sekarang temanya Banana Week. Setelah kemarin sempat mencoba membuat bolu kukus pisang dan ternyata nggak sukses (abis sok tahu sih), hari ini bikin kue yang sudah pernah kucoba saja deh.
Kebetulan masih banyak pisang cavendish yang dibawakan sepupuku. Sebetulnya sih, aku lebih suka pisang Ambon, aromanya lebih nancep!
Karena sudah sering bikin BananaBread andalanku ini, sekarang ingin si BB tampil lebih beda. Karena mau ikut pamer, jadi harus di-grooming sedikit, hihi. Btw, namanya memang 'bread' tapi tampilannya sangat cake. Sebetulnya lebih mirip muffin berbentuk loaf.


Nah, biar rasanya beda, maka cari partner yang berbeda juga. Pisang-coklat, banyak. Pisang-keju, sering. Yang belum apa dong? Pisang-strawberry! Yup. Pisang kan manis, sedangkan strawberry asam. Perfect combination.
Akhirnya Subuh tadi sudah mulai manggang. Strawberry memang sengaja kususun di atas karena Ayah nggak suka strawberry. Jadi dia bisa potong saja bagian atasnya nanti kalau mau makan. Lalu, biar lebih kaya rasa aku tambahkan almond panggang (sekalian menghabiskan stok di stoples).
Meski mengolahnya cuma sebentar dan nggak perlu mixer (catet: tanpa mixer!), memanggangnya memang lama, sejam, sesuai resep aslinya(www.simplyrecipes.com. Sori, lupa alamat lengkapnya, please just browse it). Tapi nggak berasa lama kalau sambil menyiapkan bekal Ayah. Pas ovennya dibuka setelah matang, mmmmm! You will realize why you love food! The aroma of strawberry on the bake is soooo sweet! Meskipun strawberry itu asam ya, tapi aromanya manis banget.
Bagian bawah strawberry-nya memang sedikit basah. Mungkin aku seharusnya benar-benar meniriskan hingga habis airnya. Dilap mungkin? Tapi basahnya nggak mengganggu kok. However, I still love pisang Ambon better, hehe..



So here's the recipe, enjoy!

Berry Berry BananaBread

Bahan:

3 buah pisang Ambon atau Cavendis
125 gram strawberry (atau 10 buah), diiris tipis, tiriskan
1 butir telur, kocok dengan garpu
3/4 cup gula
1/3 cup mentega, cairkan
1 1/2 cup tepung terigu
1 sdt peres soda kue
1/4 sdt garam
1/2 cup almond panggang

Cara membuat:
Panaskan oven 175 C.
Lumuri loyang loaf dengan sedikit mentega serta taburi terigu tipis-tipis.
Lumatkan pisang dengan garpu.
Campurkan mentega cair ke dalam pisang lumat. Aduk rata.
Masukkan gula, kocokan telur dan garam ke dalam pisang, aduk rata.
Taburkan soda kue, aduk.
Masukkan terigu lalu aduk. Don't overmix. Taburkan almond dan aduk hanya hingga menyebar.
Tuang adonan ke dalam loyang, lalu susun irisan strawberry di atasnya. Panggang sekitar 1 jam atau setelah lulus tes tusuk.
Oiya, karena strawberry membuat 'roti' ini agak basah, maka jangan terkecoh hingga mengira kuenya terus-terusan belum matang ya..

Lihat warnanya, emmmm!





Wednesday, December 30, 2009

Pandan Sponge Cake



First of all, sorry for the quality of the photos posted (yeah right, as if my other pictures have good quality :p ). The weather is cloudy all day on the day the cake was made. So anyway I have to take picture anyway with my amateur photography skill.
Anyway, our home has pandan and suji on it's yard. I don't exactly remember how it started, but suddenly I wanted to try to make pandan sponge cake, without emulsifier. I know a lot of people now hardly making cake (or even traditional snacks) with real pandan and suji's leaves. Most of people, especially comercial baker choosed to use synthetic pandan paste instead. It is more practical, of course.
It is reasonable perhaps, when I remember my grandma made quite an effort when she needed pandan aroma. She actually had this mortar and pestle made from heavy iron to mashed the pandan and suji leaves to get the color and aroma she wished for. After that, she had to strain and squeeze it to get clean the green liquid. It is taking quite lots of time.
However, I stubbornly browsed for the cake with real pandan leaf and found littleteochow blog. In her pandan spongecake recipe, she just threw a bundle of pandan leaves in food processor, added a little water and blitzed it up, and strain it. Oo.. Aa..that easy.
So I thought I just have to give a shot. Of course in Indonesia we always pair pandan and suji for natural coloring.

but, oh, but, i think i have made some mistake. First, the recipe is really really for small portion. So when I used the 20x20cm pan, the pan was still too big. Find smaller pan, or double, or even tripled the recipe. Second, I follow the recipe too much. It suggested 40 minutes of baking time. You might want to try 30 minutes and see how it goes. The result my cake is a bit too dry. The aroma though, was still great. I am satisfied to make pandan cake with natural coloring. Ow..yay!

Here's the recipe. Don't follow my mistake.

Pandan Sponge Cake

Ingredients:

3 eggs
140g flour
80g caster sugar
1 tbsp condensed milk
1/3 cup melted butter
1/4 cup coconut milk
3 fresh pandan leaves
5 fresh suji leaves

Directions:
- Make knots of pandan leaves and suji leaves and throw into the food processor together along with coconut milk, then blitzed till the leaves became pulpy. After that, pour the leaves juice through a strainer.
- Combine the juice mix with melted butter. Stir well and leave aside.
- In a mixing bowl, beat 3 eggs, condensed milk and sugar until creamy, pale and stiff.
- Fold in the flour in 3 parts, alternating with the juice mix. Start and end with flour. Do not overmix.
- Pour into a pan that has been well greased and floured.
- Bake in a preheated oven at 170 degrees celsius for (try) 30 minutes or until a skewer comes out clean. Tent with a foil if top browns too quickly. Allow cake to cool before cutting